PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Translate

• Otto Iskandar Dinata

Otto Iskandar Dinata


Perdana Menteri Indonesia ke-1
Masa jabatan : 1945
Lahir : Bojongsoang (Bandung), 31 Maret 1897

Biography

Oto Iskandar di Nata adalah pejuang. Ia memimpin Pagoejoeban Pasoendan sejak tahun 1929 sampai 1942. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan (mendirikan banyak sekolah), budaya, ekonomi (Bank dan koperasi) dan hukum (lembaga bantuan hukum dan rehabilitasi mantan narapidana). Tahun 1931 sampai 1941 ia anggota Volksraad, yang menjadi embrio dari dewan perwakilan rakyat di kemudian hari. Tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) dan duduk pada PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Oto Iskandar di Nata ikut merancang UUD 1945. Dalam sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945, Oto mengusulkan agar Sukarno dipilih sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden. Anggota sidang menyetujui usul tersebut secara aklamasi. Setelah Indonesia merdeka, Oto diangkat menjadi Menteri Negara yang mengurus masalah keamanan.
Dalam kedudukan itulah ia hilang pada akhir tahun 1945. Bisa dikatakan Oto Iskandar di Nata adalah “orang hilang” pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Baru 14 tahun kemudian (1959), terungkap bahwa ia dibunuh seorang polisi bernama Mujitaba. Pembunuhan itu dilakukan di pantai Mauk,Tangerang. Sang pelaku dihukum 15 tahun penjara. Namun di dalam pengadilan tidak terungkap siapa yang menyuruh Mujitaba. rijana Abdurrasyid (kini Prof.Dr) yang menjadi jaksa dalam persidangan itu meminta tambahan waktu sidang untuk mengungkap dalang dibalik pembunuhan itu. Tapi usulannya tak terkabul, sehingga hanya pelaku lapangan yang tertangkap dan dihukum, namun aktor intelektualnya tak tersentuh. Untuk menghormati jasa Oto, Pemerintah Jawa Barat membangun sebuah taman makam pahlawan di Taman Pasir, Lembang. Pada batu nisan tertulis Oto iskandar dinata, lahir 31-3-1887, wafat 19-12-1945. Sebenarnya, tak ada jasad Oto, tak ada jenasah Oto Iskandar di Nata di situ. yang ada hanya sejumput pasir dari pantai Mauk, terbungkus kain putih.
Keberanian Raden Oto Iskandar Di Nata kritikannya yang pedas dan suaranya yang keras membuat ia dijuluki Si Jalak Harupat, ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang berkokok dan selalu menang jika diadu. Julukan ini dilontarkan oleh Wirasendjaja, guru HIS Cianjur, kakak Soetisna Sendjaja, pemimpin redaksi pertama surat kabar Sipatahoenan. Almarhum Raden Oto Iskandar Di Nata meninggal dan tidak pernah ditemukan jasadnya, ia diculik pada tanggal 31 Oktober 1945 dan menulis surat terakhir di tanggal yang sama untuk istri dan sebelas orang anak-anaknya. Menjelang akhir Desember 1945 terdengar berita bahwa Oto diculik oleh Laskar Hitam di Pantai Mauk, Tangerang. dalam kapasitas beliau sebagai menteri negara yang mempersiapkan terbentuknya BKR. Selain itu ia juga mantan ketua organisasi Paguyuban Pasundan (1929-1942) dan anggota Volksraad, DPR pada masa Hindia Belanda (1931-1941).
Itulah sekelumit keberanian Raden Oto Iskandar Di Nata yang terlahir di Bojongsoang, Bandung, 31 Maret 1897, kritikannya yang pedas dan suaranya yang keras membuat ia dijuluki Si Jalak Harupat, ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang berkokok dan selalu menang jika diadu. Julukan ini dilontarkan oleh Wirasendjaja, guru HIS Cianjur, kakak Soetisna Sendjaja, pemimpin redaksi pertama surat kabar Sipatahoenan.
Almarhum Raden Oto Iskandar Di Nata meninggal dan tidak pernah ditemukan jasadnya, ia diculik pada tanggal 31 Oktober 1945 dan menulis surat terakhir di tanggal yang sama untuk istri dan sebelas orang anak-anaknya. Menjelang akhir Desember 1945 terdengar berita bahwa Oto diculik oleh Laskar Hitam di Pantai Mauk, Tangerang.
Bermula dari aktifnya sebagai guru HIS dan aktif di partai Boedi Oetomo Pekalongan, Oto membongkar kasus Bendungan Kemuning yang menyelamatkan rakyat dari penipuan pengusaha Belanda, hingga akhirnya ia dipindahkan ke Batavia. Di Jakarta ia kemudian aktif dan menjadi pimpinan Pagoejoeban Pasoendan pada tahun 1929, sebuah organisasi dan partai yang tidak hanya untuk orang Sunda, ketua pertamanya sewaktu didirikan tahun 1913 adalah orang Bugis, Daeng Kandoeroean Ardiwinata. Semenjak dipimpin oleh Oto Pagoejoeban Pasoendan mengalami perkembangan pesat dalam bidang politik, pendidikan, budaya, ekonomi serta pemberdayaan istri. Tahun 1931 Oto duduk di dewan rakyat Volksraad sebagai utusan dari Pagoejoeban Pasoendan.
Tahun 1942 Oto aktif memimpin surat kabar Sipatahoenan yang menjadi corong Pagoejoeban Pasoendan, kemudian memimpin surat kabar Tjahaja selama pendudukan Jepang. Oto mengambil sikap kooperatif selama masa pendudukan hingga kemerdekaan, yang juga membuat beberapa sahabatnya heran dengan sikap Oto yang biasanya frontal sesuai dengan julukan Si Jalak Harupat.
Ada pendapat bahwa Oto dianggap kolaborator Jepang hingga ia diculik oleh Laskar Hitam, saat itu Oto yang menjabat Menteri Negara mengambil sikap kooperatif dalam revolusi yang terjadi setelah proklamasi, terutama pada saat Sekutu masuk Bandung pada bulan September 1945. Melalui diplomasi Sekutu gagal menguasai Bandung, hingga bulan Maret Sekutu membuat ultimatum kepada Republik, namun dijawab dengan pengungsian dan pembakaran kota Bandung oleh tentara dan rakyat, yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api.
Selain Oto korban penculikan saat itu –entah oleh siapa– adalah Residen Priangan Poerdiredja, Walikota Bandung Oekar Bratakoesoemah dan Niti Soemantre Ketua KNI Karesidenan Priangan.